Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kerja mengalami banyak perubahan, mulai dari tren hybrid working, meningkatnya kebutuhan akan keseimbangan hidup dan pekerjaan, hingga fenomena baru bernama resenteeism. Istilah ini mungkin belum seterkenal burnout atau quiet quitting, tetapi dampaknya terhadap produktivitas perusahaan dan kesejahteraan karyawan tidak kalah serius.
Apa Itu Resenteeism?
Resenteeism adalah kondisi di mana karyawan tetap hadir bekerja secara fisik maupun online, tetapi membawa rasa kecewa, frustrasi, atau ketidakpuasan yang mendalam terhadap pekerjaan, lingkungan kerja, maupun manajemen. Mereka tidak berhenti bekerja, tetapi hadir dengan penuh rasa tidak senang sehingga performa, kreativitas, bahkan motivasi mereka menurun drastis.
Fenomena ini sering kali muncul akibat rasa terjebak: karyawan tidak berani resign karena alasan finansial atau keterbatasan peluang, tetapi mereka juga tidak bahagia dengan situasi di tempat kerja. Akibatnya, energi negatif menyebar ke rekan kerja lain, menurunkan moral tim, dan memengaruhi hasil bisnis.
Penyebab Resenteeism
Beberapa faktor yang memicu resenteeism antara lain:
- Kurangnya komunikasi terbuka antara karyawan dan manajemen.
- Human capital management yang tidak responsif terhadap kebutuhan karyawan, seperti kurangnya dukungan karier, pelatihan, atau penghargaan.
- Lingkungan kerja yang tidak sehat, misalnya budaya kerja toksik, beban kerja tidak seimbang, atau ketidakjelasan arah perusahaan.
- Keterbatasan kesempatan karier yang membuat karyawan merasa jalan mereka buntu.
Dampak Resenteeism bagi Perusahaan
Resenteeism membawa konsekuensi serius, di antaranya:
- Penurunan produktivitas karena karyawan tidak bekerja dengan sepenuh hati.
- Meningkatnya turnover jangka panjang, sebab rasa kecewa yang terus menumpuk bisa berujung pada keputusan resign mendadak.
- Terganggunya citra perusahaan, terutama jika kondisi ini meluas dan mulai dibicarakan di luar organisasi.
Di sinilah pentingnya perusahaan untuk proaktif mendeteksi gejala resenteeism sejak dini.
Peran Specialist Recruitment Agencies dan Executive Search Agency
Untuk mengurangi risiko resenteeism, banyak perusahaan bekerja sama dengan specialist recruitment agencies maupun executive search agency. Layanan ini membantu perusahaan mendapatkan talenta terbaik yang sesuai dengan kebutuhan budaya kerja, bukan hanya keterampilan teknis.
- Specialist recruitment agencies memastikan perusahaan memiliki kandidat yang benar-benar cocok dengan posisi yang dibuka, sehingga mengurangi potensi ketidakpuasan di masa depan.
- Executive search agency mendukung pencarian kandidat level manajerial hingga eksekutif yang memiliki kepemimpinan kuat, sehingga dapat menciptakan lingkungan kerja sehat dan mengurangi potensi resenteeism di tim mereka.
Baca juga: Ditanya “Ada Pertanyaan?” Saat Interview? Begini Jawaban yang Tepat
Strategi Human Capital Management untuk Mengatasi Resenteeism
Selain perekrutan yang tepat, perusahaan juga perlu memperkuat strategi human capital management, seperti:
- Membangun komunikasi dua arah dengan karyawan, sehingga mereka merasa didengar.
- Menyediakan jalur pengembangan karier yang jelas agar karyawan tetap termotivasi.
- Mengapresiasi kinerja melalui reward system yang adil dan transparan.
- Menciptakan budaya kerja yang inklusif dan positif, agar karyawan merasa nyaman dan dihargai.
Bagaimana HRnetRimbun Bisa Membantu
Sebagai bagian dari HRnetGroup, HRnetRimbun hadir untuk membantu perusahaan menghadapi tantangan dunia kerja modern, termasuk fenomena resenteeism. Dengan layanan talent acquisition, executive search, dan dukungan penuh dalam human capital management, HRnetRimbun memastikan perusahaan mendapatkan talenta yang tepat sekaligus menjaga engagement karyawan tetap tinggi.
Apabila perusahaan Anda ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana menghadapi resenteeism sekaligus meningkatkan kualitas tim, hubungi kami di HRnetRimbun.